A Day in Jakarta.

Ialah hujan di pagi ini yang membuat elegi sebuah kepergian semakin menjadi.

Bali di sana dan Jakarta di sini. Entah mengapa, setelah pergi sekian bulan dari sebuah kota metropolis yang walau menyesakkan namun masih kuanggap rumah sepenuhnya ini, baru sekarang aku mengerti arti pulang itu sendiri. Dan sembari hujan masih terus mengguyur sudut kota di bilangan Kemang ini, rinduku semakin menari.

Beberapa bulan lalu, aku dihadapkan oleh pilihan untuk pergi atau tetap tinggal. Dua opsi sederhana memang, namun mampu membuat duniaku gonjang-ganjing. Pro tetap tinggal; hidup nyaman sentosa, fasilitas lengkap, lingkungan yang sama, tak perlu beradaptasi lagi, teman dan kerabat yang sudah dikenal, dan lain-lain. Pro pergi; hidup semakin bebas, mencoba hal-hal baru, relasi bertambah, tak perlu lagi stuck di tengah kemacetan ibukota, (mungkin) mampu menemukan muse baru, dan sebagainya.

Ah, sulit sekali pilihannya. Namun entah mengapa, setelah pergumulan hebat dalam membuat list panjang-panjang mengenai pro kontra antara tinggal dan pergi, aku memutuskan untuk pergi. Memang tidak mudah di awal perjalanannya untuk pergi begitu saja meninggalkan enviroment sekitar yang sudah ada sejak 17 tahun lalu. Tidak mudah untuk pergi begitu saja dan beradaptasi dengan sebegitunya di lingkungan antah berantah yang belum pernah sama sekali aku jejaki. Namun itulah hidup. Life goes on, they said.

Pergi dari rumah hanya dengan berbekal kenekatan hari itu membuatku belajar sedikit banyak bahwa untuk melakukan hal sebesar ini memang hanya dibutuhkan pemantik kecil semata-mata seperti tekad. Dan benar saja, jatuh bangun kehidupan orang-orang dewasa itu dimulai untukku mulai hari pertama aku pergi.

Sulit; ialah kata pertama yang terlintas ketika kita baru saja mencoba untuk melakukan sesuatu yang belum pernah kita coba lakukan sebelumnya. Seperti anak kecil yang baru saja belajar mengendarai sepeda roda dua, pasti ia akan terjatuh lebih dulu sebelum akhirnya mampu bermain balapan sepeda dengan temannya yang lain. Atau seperti anak sekolah yang butuh melakukan kesalahan minor di kelas dulu sebelum akhirnya mengerti betul fungsi rumus teori atom kuantum. Tapi ialah kesalahan yang mendewasakan seseorang itu.

Dari sebuah perasaan bahwa pilihan untuk pergi ialah sebuah kesalahan, aku mulai belajar mendewasa. Untukku, Bali adalah sebuah tempat paling ajaib dimana semua yang kita inginkan tersedia dengan gampangnya. Ingin menikmati sesorean dengan melihat eloknya mentari yang mulai bersembunyi di balik cakrawala? Bali punya. Mau mencari inspirasi di sebuah kafe klasik di pinggiran hamparan sawah yang mulai menguning? Bali punya. Ingin mensyukuri indahnya dunia dari perspektif berbeda di mana mata dimanjakan dengan matahari terbit? Ah, Bali juga punya. Atau ingin menemukan manusia-manusia yang belum pernah kamu temui sebelumnya? Well, yang itu Bali juga punya.

Dan entah bagaimana ceritanya, sedikit demi sedikit rasa cinta akan rumah terbagi dengan eloknya tanah Dewata ini. Terlebih ketika keberagaman suku, ras, budaya, latar belakang manusia yang aku temui di tempat ini serta merta membuat aku belajar bahwa perbedaan bukan lagi permasalahan. Dan terlebih, ketika aku dipertemukan dengan mereka dan dirinya di persimpangan jalan.

Mereka, sekumpulan manusia yang mengajariku arti kebersamaan. Dan dia, sesosok jiwa yang mengajariku arti kepulangan. Ialah mereka yang membuatku kerasan, sedikit demi sedikit melupakan fakta bahwa aku sedang berada ratusan kilometer jauhnya dari rumah. Dan ialah dirinya yang membuatku kembali hidup, merasa bahwa menulis bukan lagi satu beban namun hal yang seharusnya disyukuri. Di hari aku menyadari satu hal tentang dirinya, hidup terasa senada lebih berwarna.

Menemukan dan ditemukan, adalah permainan Tuhan paling absurd untuk hambaNya.

Aku menemukan mereka di tanah Dewata. Dan aku ditemukan mereka di saat frustasiku. Bagaikan happy little pill, mereka seakan meruntuhkan tembok kekakuan yang sudah beberapa tahun belakangan aku bangun demi memberi jarak antar manusia dan kehidupan kelabu yang membosankan. Bagaikan pelangi di antara warna abu, mereka membuat hidup senada lebih bermakna. Ah, sudahlah. Mari lupakan mereka sejenak dan ikut aku memahami “dia” yang sedari tadi kusebut-sebut ini.

Dia yang sedaritadi kumaksud adalah muse yang beberapa tahun belakangan hilang terkoyak kedewasaan. Entah bagaimana ceritanya, aku lupa kapan terakhir kalinya aku mampu menulis sebebas ini. Sebelum dirinya, jemariku selalu terasa kelu, otakku selalu merasa frustasi, tubuhku bahkan selalu berkontradiksi. Namun setelah dirinya, hidup terasa indah apa adanya. Dan jelas, aku sangat bersyukur untuk itu.

Menemukan dan dipertemukan. Pergi untuk kembali. Astungkara yang dirapalkan tak henti karena keberadaan kamu di sini. Aku bersyukur. Aku mengerti, bahwa dalam hidup ini ialah pergi yang mengajarkan kita untuk kembali. Dan semata-mata dalam perjalanan pergi itu pula akan ada yang menemukan dan ditemukan. Karena pergi, kita mengerti. Karena pulang, kita bersyukur.

Kemang, 11 Januari 2017.
Ditulis di pojok cafe Reading Room sembari mendengarkan gemericik hujan yang masih membasahi hari. Di awal tahun ini, aku rindu Bali. Dan kamu. Dan mereka. Semoga baik-baik saja di sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s