Cinta yang Baik Itu Mendewasakan.

Cinta yang baik itu mendewasakan.

Sudah jauh lewat tengah malam dan lagi-lagi terpikir oleh saya mengenai hal-hal esensial semacam cinta. Cinta itu rumit memang—namun bukan karena cinta itu sendiri yang membuat semuanya rumit, melainkan manusianyalah yang membuat cinta menjadi se-komplex alogaritma yang membuat kepala berkepul. Cinta yang baik itu sederhana. Memberi dengan sederhana. Mengasihi dengan sederhana. Juga membahagiakan dengan sederhana.

Malam ini terjadi banyak konversasi antara saya dan beberapa teman. Entah seorang teman yang membuat sebuah pengakuan tentang masa lalunya pada saya—ia yang bercerita seakan mencari reasuransi dari mulut saya. Entah seorang sahabat yang bercerita perihal seorang lelaki melankoli yang namanya selalu saya rapalkan pelan dalam doa dan mimpi. Atau, entah seorang kawan yang bercerita perihal monster terkelam dalam dirinya.

Saya mengapresiasi cinta sebesar apa yang mereka miliki dengan sederhana. Tak butuh banyak pengakuan, namun cukup telak untuk diakui. Baru lima hari lamanya saya kembali menginjakkan kaki di Tanah Dewata, dan saya telah diberikan pelajaran-pelajaran sederhana tentang cinta yang baik. Dan ketiga orang tersebut mengajarkan saya bahwa cinta yang baik ialah yang menerima dengan sederhana.

Tak bisa saya pungkiri, saya pun masih mencintai satu sosok itu dengan sederhana. Sosok yang selama 6 bulan terakhir sudah cukup banyak memberikan saya inspirasi dalam hidup ini. Sosok yang selalu mampu menguatkan bahkan disaat terapuhnya sekalipun. Beberapa hari lalu, saya mengutarakan isi hati saya kepadanya—perihal cinta sederhana yang saya miliki untuknya, bagaimana saya rela melihat dia dibahagiakan orang lain asalkan itu yang memang benar-benar dia inginkan, bagaimana saya selalu merapal doa untuk setiap langkah dan napasnya dalam mendapatkan kebahagiaannya, bagaimana saya selalu berada di barisan terdepan ketika ia membutuhkan apapun walau sebagai gantinya ia tak pernah berada dimanapun ketika saya membutuhkannya.

Cinta yang baik itu mendewasakan.

Dan benar, cinta yang saya miliki untuknya bukanlah cinta yang meminta kebahagiaan sebagai timbal baliknya. Namun ialah cinta yang mendoakan kebahagiaan sebagai satu hal paling esensial dalam kehidupannya. Cinta yang baik tidak membutuhkan imbalan, melainkan memberi tanpa meminta. Dan dari sana, kedewasaan itu tumbuh bersamanya.

Lalu, setelah beberapa percakapan panjang saya bersama ketiga lawan bicara saya itu, hanya satu hal yang terlintas di otak saya subuh ini;

Terima kasih telah memberi saya kesempatan untuk mendewasa karena cinta yang saya miliki untuk kamu. Semoga kamu mampu menciptakan bahagiamu sendiri. Karena untuk saya, ialah kebahagiaan sederhanamu yang membuat saya bertahan terhadap cinta ini.

 

 

Ditulis setelah beberapa percakapan rancu di kamar indekos, 9 Februari 2017.
Semoga malam ini, hati masih terus bertahan. Semoga malam ini, hati tak lagi menjerit. Semoga malam ini, dirinya menjadi selangkah mendewasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s