Retrouvailles.

#NowPlaying: Banda Neira – Sampai Jadi Debu

Akan selalu ada imaji yang tertinggal mengenai seseorang di setiap langkah kepergiannya. Akan selalu ada fragmen yang mengeras mengenai setiap jejak tempat yang pernah dijejakinya. Akan selalu ada montase yang berputar mengenai kenangan yang ada dalam kepala. Akan selalu ada, bagaimanapun akhir kisahnya. Akan selalu ada, bagaimanapun cara hilangnya.

Beberapa tahun telah berlalu semenjak hari kelulusanku di tanah rantau ini, namun Bali masih secantik tahun-tahun keras penuh perjuangan yang kulalui bersama mereka yang kuanggap rumah. Aku lupa kapan persisnya, mungkin lima tahun yang lalu. Entahlah, aku sudah lupa untuk menghitung. Namun ada banyak hal yang tersimpan di setiap sudut dan jejak kota yang pernah mendewasakan sosok remaja pemberontak dalam diriku.

Setelah hari kelulusan itu berlalu, aku kembali meneruskan pencarian dalam hidupku yang tak ada habisnya. Aku melanjutkan studiku di negeri seberang yang jaraknya lebih jauh dari tanah Dewata ini, bekerja membanting tulang untuk bisa menghidupi diri di tanah yang kasurnya selalu terasa setingkat lebih keras setiap aku kembali ke studio apartemen yang menjadi tempat tinggalku di sini.

Tidak ada yang salah memang, namun beberapa tahun yang kuhabiskan seorang diri di negeri orang ini membuat diriku lupa akan sesuatu paling esensial yang sejak dulu sudah kutemukan ketika berada di antara sosok-sosok sahabat yang pada masanya pernah mendewasa bersama di tanah Dewata. Maka dari itu, ketika berita itu sampai di telingaku melalui surel yang kudapat dari seorang kawan, aku segera kembali.

Bali masih tetap sama seperti kali terakhir aku meninggalkannya. Masih dengan euphoria kepergian dan kedatangan orang-orang yang ingin mencari sesuatu dalam hidupnya. Masih dengan perasaan hangat seperti ketika pertama kali menjejaki kaki di tanah ini. Masih dengan rasa yang sama, walau kenyataan sudah jauh berbeda. Seorang sahabat menikah dan ia mengundangku kembali kemari, yang serta merta kembali membawa kami bersama walau untuk sejenak.

“Jadi gimana Aussie?” Lelaki itu berdiri di sampingku, serta merta mengaburkan pikiran liar tentang masa lalu. Aku menoleh ke arahnya hanya untuk mendapati segaris siluet yang membentuk lekuk tubuh itu menjadi senada lebih indah di balik remang-remang lampu dalam senja di Pantai Jimbaran. Masih tetap sama. Masih tetap indah sebagaimana mestinya.

Same old, gak jauh berbeda pokoknya dengan Jakarta yang beberapa tahun lalu gue kenal.” Aku menyunggingkan sebuah senyum yang terkesan dipaksakan. “Lo sendiri, apa kabar dengan kehidupan di Jakarta?”

“Masih pekak seperti dulu yang pasti.” Ia menenggak bir itu dalam diam sebelum kembali melanjutkan, “Gak kerasa ya, 5 tahun yang lalu kita lulus bareng-bareng trus pisah tengah jalan untuk ngelanjutin hidup masing-masing. Gak berasa udah 5 tahun lewat dan satu lagi dari kita akhirnya memutuskan untuk menikah.”

Aku mendeham, berusaha sekerasku untuk tidak mengingat-ingat apa yang dahulu pernah terjadi. “Life goes on, they said. With or without every single one of us in our lives. Gue yang cabut buat lanjut S2, lo yang balik buat kerja, Celline yang memutuskan buat menikah… satu per satu pasti bakal melewati fase kehidupan itu. Ngelanjutin hidup sebagaimana mestinya.”

Sebagaimana aku yang masih berusaha melupakan fragmen kehidupanku tentang kamu.

“Ini adalah kali pertama gue kembali menginjakan kaki di Bali setelah sekian lama. Gue rasa terakhir kali gue di sini ya pas hari wisuda kita itu.” Lelaki itu kembali menenggak birnya. “Kemarin pas gue baru sampai, gue langsung meluncur ke Tegalwangi. Dan ekspektasi gue untuk bisa sesorean sendiri kaya dulu hancur karena Tegalwangi makin rame.”

Aku tersenyum, kembali teringat akan satu ingatan ketika ia menyendiri di pantai bertebing itu. Dulu ia kerap menghabiskan waktunya berpikir di sana. “Same, ini juga kali pertama gue balik ke sini setelah sekian tahun lewat. How’s the feeling though to be back to the place you used to feel whole about?

Ia mengedikkan bahu. “Entahlah, antara senang dan sedih gue gak bisa milah. Senang karena akhirnya bisa reunite sama kalian lagi yang kemarin-kemarin gak ada kabar kaya hantu hilang gitu aja. Sedih ya karena ini… ada terlalu banyak hal yang ngingetin gue tentang kalian di tanah ini.”

Tepat sekali, itulah alasan kenapa aku gak pernah mau kembali.

Aku kembali menoleh, menatap mata itu tepat di maniknya. “Hey, can you promise me one thing?” Ia terdiam, nampak jelas bahwa napas itu tercekat. “Gue gak tau apa yang udah terjadi di hidup lo lima tahun belakangan ini. Gue pergi, gue kabur, gue menghilang karena gue selalu punya ketakutan untuk ditinggalkan. Maka dari itu gue lebih sering meninggalkan lebih dulu. Dan sekarang… kembali ditarik ke tanah ini, gue gak mau membuat deduksi macam-macam tentang apa yang terjadi di hidup kalian masing-masing yang udah gue tinggalin gitu aja.

Mungkin lo udah nemuin perempuan lo yang dulu pernah gue singgung-singgung, mungkin lo masih dalam pencarian itu, mungkin lo udah menemukan orang-orang yang sama berharganya dengan teman-teman lo dulu sebelum gue dan mereka, mungkin lo udah mendapatkan kehidupan impian yang sejak dulu lo mau… ada terlalu banyak kemungkinan yang gak pernah gue tau pasti. Tapi satu hal yang selalu gue tau pasti tentang elo, gue akan terus doain lo dapetin semua bentuk kebahagiaan dalam hidup ini. Apapun itu. Semuanya dan gak ada yang terkecuali. Tapi untuk semua doa itu tercapai, gue butuh satu hal…

Maka dari itu gue mau lo janji untuk gak pernah lupain setiap fragmen kehidupan yang pernah lo jalanin. Senang, sedih, amarah, pokoknya semua perasaan yang mendewasakan sosok diri lo yang sekarang ada di depan gue ini. Keluar dari zona aman lo, cari kebahagiaan itu di setiap sudut kehidupan ini, gapai semua mimpi sampai lo ngerasa cukup puas untuk berhenti. Lakuin semua itu dan setelah lo cukup bahagia, tengok lagi ke belakang sebagai finalisasi kebahagiaan yang valid itu. Gue mau lo bahagia, gimanapun caranya. Hanya itu.”

Akan selalu ada sepasang mata yang tak mampu berbohong tentang rasa. Akan selalu ada hati yang tak mampu membendung perasaan lama. Akan selalu ada mulut yang tak mampu berhenti mengucap doa. Sebagaimana aku yang baru saja menyelesaikan pidato singkat mengenai perasaanku yang masih tetap ada, sosoknya kini berhenti menenggak bir itu dan segera memelukku erat.

“Gue bahagia. Gue bahagia karena lo ada. Gue bahagia sekarang, maka dari itu jangan kabur lagi.” Ia yang memelukku erat, ia yang menjalarkan hangat, ia yang membuat hati ini terus tertambat. Ialah dirinya yang menjadi alasanku pergi meninggalkan tanah ini. Namun ialah dirinya pula yang menjadi alasanku kembali.

Akan selalu ada imaji yang tertinggal mengenai seseorang di setiap langkah kepergiannya. Akan selalu ada fragmen yang mengeras mengenai setiap jejak tempat yang pernah dijejakinya. Akan selalu ada montase yang berputar mengenai kenangan yang ada dalam kepala. Namun akan selalu ada pula cara satu hati yang sempat melayang untuk kembali.

Processed with VSCO with f2 preset
“Dalam diam doaku tetap sama, semoga bahagia.” – Pantai Jimbaran, 16 Februari 2017.

 

 

 

 

Jimbaran, 17 Februari 2017.
Ditulis sehari setelah kunjungan perdanaku ke pantai di tahun 2017. Kendati perdana, rasa dan kenangan yang pernah ada tidak dapat dilarutkan bersama fragmen tahun lalu. Sebagaimana semua sudut kota ini mengingatkanku padanya, doaku masih tetap sama. Ialah semoga bahagia. Lagi dan lagi. Dan akan terus begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s