Gnossienne.

Fulltime lover, you said.

Yet, when it comes to love talk, you cowardly turn your head away.

I remember one time we were sitting on your porch that night, you smoking on your cigarette and me sipping on my tea. It was peaceful, I remember. How the crickets accompanied our silent night while you kept on sighing a little too frequent just because you were stressing out about something. You never told me what it was bothering your mind. Maybe I’m not good as a keeper. Maybe I’m not trustworthy of a person. Maybe I’m not…

But you released those puffs of thin smoke into the air as if you let out your emotions all at once. You’re not a heavy smoker, I reckon. But when it comes to stuff you don’t want to share, you’d rather smoke those thoughts away. You thought it was easier than to tell people about those stuff.

Continue reading “Gnossienne.”

A Day in Jakarta.

Ialah hujan di pagi ini yang membuat elegi sebuah kepergian semakin menjadi.

Bali di sana dan Jakarta di sini. Entah mengapa, setelah pergi sekian bulan dari sebuah kota metropolis yang walau menyesakkan namun masih kuanggap rumah sepenuhnya ini, baru sekarang aku mengerti arti pulang itu sendiri. Dan sembari hujan masih terus mengguyur sudut kota di bilangan Kemang ini, rinduku semakin menari.

Beberapa bulan lalu, aku dihadapkan oleh pilihan untuk pergi atau tetap tinggal. Dua opsi sederhana memang, namun mampu membuat duniaku gonjang-ganjing. Pro tetap tinggal; hidup nyaman sentosa, fasilitas lengkap, lingkungan yang sama, tak perlu beradaptasi lagi, teman dan kerabat yang sudah dikenal, dan lain-lain. Pro pergi; hidup semakin bebas, mencoba hal-hal baru, relasi bertambah, tak perlu lagi stuck di tengah kemacetan ibukota, (mungkin) mampu menemukan muse baru, dan sebagainya.

Ah, sulit sekali pilihannya. Namun entah mengapa, setelah pergumulan hebat dalam membuat list panjang-panjang mengenai pro kontra antara tinggal dan pergi, aku memutuskan untuk pergi. Memang tidak mudah di awal perjalanannya untuk pergi begitu saja meninggalkan enviroment sekitar yang sudah ada sejak 17 tahun lalu. Tidak mudah untuk pergi begitu saja dan beradaptasi dengan sebegitunya di lingkungan antah berantah yang belum pernah sama sekali aku jejaki. Namun itulah hidup. Life goes on, they said.

Continue reading “A Day in Jakarta.”