Suatu Hari Nanti.

Suatu hari nanti, akan kau temukan aku di sudut lemari tuamu. Bersembunyi di balik tumpukan pakaian lama yang kau tanggalkan, jauh di dalam sebuah kotak usang yang sudah lama kau tinggalkan. Ketika Minggu pagi itu kau melakukan pembersihan rumah besar-besaran, dengan latar teriakan sepasang anak kembar yang terus berlarian, kau akan merapikan setumpuk pakaian usang yang kumaksud, memasukkannya ke dalam kerdus-kerdus bekas untuk kemudian kau sumbangkan kepada yang katanya lebih membutuhkan. Dan diam-diam, tanpa aba-aba, akan kau temukan pula kotak usang yang kumaksud, yang sudah bertahun-tahun lamanya bersembunyi di sana sejak kau menikahinya, meninggalkanku bersembunyi sendirian tanpa pernah lagi kau temukan.

Suatu hari nanti, akan kau temukan aku di sudut lemari tuamu, bersembunyi di balik setumpuk pakaian lama yang kau tanggalkan, jauh di dalam sebuah kotak usang yang sudah lama kau tinggalkan, sendirian menanti untuk kembali kau temukan. Dan ketika saatnya tiba, aku akan kembali hadir di tengah kehidupan, menarikmu kembali jauh pada ingatan, dan menjebakmu masuk dalam lorong kenangan.

Kemana perginya semua ini? Tanyamu kaku, tak tahu sudah berapa lama hidup membawamu jauh dari masa lalu.

Continue reading “Suatu Hari Nanti.”
Advertisements

Perihal Tumbuh, Jangan Cepat-Cepat.

Perihal tumbuh,

Jangan cepat-cepat. Kamu terlalu terburu-buru untuk dikatakan lambat. Padahal, baru kemarin usiamu menggenap bertambah satu. Jangan kau tambah lagi satu yang akan mengganjilkanmu. Kamu, terlalu terburu-buru.

Perihal tumbuh,

Jangan cepat-cepat. Kamu terlalu terbiasa dengan hadirnya dia dan mereka, berpikir bahwa tak akan ada yang berubah pada akhirnya. Tapi mari kubisikan sesuatu padamu; faktanya, semua akan hilang ditelan waktu. Begitupun kamu, yang kelak akan tertinggal di ambang pintu. Semua akan hilang ditelan waktu. Dan nyatanya memang hidup sekejam itu.

Continue reading “Perihal Tumbuh, Jangan Cepat-Cepat.”

Istirahat Sesaat.

Kemarin, aku pulang kala mentari sudah kembali bersembunyi di balik bahari. Di tengah kota Jakarta yang penuh akan hiruk pikuk manusianya, aku membaur, tersaur, tersungkur. Rasanya kecil, mengecil, kemudian nihil. Entah apa yang aku rasa saat itu, namun rasanya memuakkan. Ketika kulihat seisi jalanan padat ibukota, selasar pertokoan yang dipenuhi manusia tanpa rumah, KRL yang padat tanpa adat—rasanya sesak. Iya, sesak melihat kehidupan yang silih berganti.

Selama ini aku memiliki hubungan cinta dan benci dengan kota ini. Ibukota, katanya. Tapi tak ada “ibu” di dalamnya. Manusia yang dipaksa bertahan di tengah kerasnya kehidupan. Ibukota kita ini lucu ya? Beragam wajah, karakter, jiwa, atau apapun namanya—semua bergumul jadi satu. Heterogenitas kehidupan di dalamnya berjalan saling berdampingan walau kerap kali bergesekkan.

Continue reading “Istirahat Sesaat.”

Suatu Hari Nanti, Kamu Akan Kembali.

Kurelakan kamu pergi dengan harapan kamu akan kembali. Iya, sebab mereka berkata lepaskanlah jika benar kamu mencintainya. Iya, sebab apabila benar ia adalah porsi yang tepat di hidupmu, akan kembali juga dirinya walau telah kau lepas terbang jauh setinggi apapun. Iya, sebab apabila benar ia bukanlah porsi yang tepat untukmu, akan lepas juga dirinya walau telah kau genggam sekencang apapun.

Kurelakan kamu pergi dengan harapan kamu akan kembali. Iya, sebab aku percaya kamu akan kembali suatu hari nanti. Iya, sebab aku percaya pulangmu akan selalu ada padaku. Iya, sebab aku percaya semesta tak akan ingkar pada mereka yang percaya. Iya, sebab itu kupercayakan semesta sepenuhnya.

Kurelakan kamu pergi dengan harapan kamu akan kembali.

Continue reading “Suatu Hari Nanti, Kamu Akan Kembali.”

Ada.

Dan terbangun dirinya di pagi itu, dengan sosok yang sama yang masih terus ia temui di setiap paginya. Diam-diam, terselip lega ketika ia kembali melihatnya, bagaimana takut selalu menyelimutinya sedetik sebelum ia membuka mata. Sejak lama, sosok itu masih terus menjadi pendamping yang selalu mampu membuat hatinya lega di setiap duka. Sejak lama, selalu ia pinta pada Pencipta perihal sosoknya. Sejak lama, hingga akhirnya mimpi itu kini menjadi realita.

Ia menghela napas lega, karena satu lagi pagi dapat ia lalui dengan sosok itu di sini. Matanya masih menutup dengan damai, irama napasnya masih ringan naik turun, wajahnya masih damai tanpa pretensi. Diam-diam, perempuan itu selalu suka dengan konsep tidur bersama ini, bagaimana seseorang menyerahkan seluruh bagian terapuhnya untuk dilihat oleh seseorang lainnya yang mereka percayai untuk terlelap di sampingnya. Rasanya sederhana ketika kau mempercayai bagian itu kepada seseorang, percaya bahwa mereka masih akan terus ada di sana bahkan ketika sudah kau perlihatkan sisi terapuhmu sekalipun.

Dulu sekali, hal semacam ini hanyalah mimpi. Dulu sekali, sosok itu selalu terasa jauh. Berkali-kali, ia meyakinkan diri bahwa suatu hari nanti hal-hal semacam ini tak akan lagi jadi mimpi. Dan alih-alih mimpi, realita akan menjadi tempatnya berdiri. Dan benar saja, bertahun-tahun setelahnya, ia masih terus mengharap hal yang sama. Sebenarnya tak jarang ia takut tidur, takut bahwa setelah ia bangun nanti ia mendapati fakta bahwa selama ini ia hanya masih terus hidup dalam mimpi. Tak jarang ia khawatir bahwa setelah ia bangun nanti, tak akan lagi ia temui sosok yang sama di sampingnya ini. Tak jarang ia terbangun dengan panik karena mimpi buruk di tengah malam dan kembali tenang sepersekian detik kemudian kala ia masih terus mendapati sosok itu di sana. Walau realita sudah menjadi sahabatnya, ketakutan-ketakutan irasional semacam itu masih terus saja menghantuinya.

Continue reading “Ada.”

An Open Letter: To Those Who Have Failed You.

To those who have failed you,

I want you to tell them how great of a loss they have. They could have had the whole world if they let you in. But instead, they only let yourself fall. They could have had prosperity if they let you stay. But instead, they only let yourself crumpled. I want them to understand of how much they’ve lost by not keeping you around. I want them to understand of how much they could’ve gained if they didn’t fail you.

God created you on one of those sunny days up in heaven. He created you in awe, knowing you’d be a pure heart one day. His angels even cheered for you when He sent you to the earth, letting both your mom and dad know a little present was on their way to them. You could’ve stayed in heaven and lived thousand lives up above, yet you chose to come here. And God, there’s never a day I didn’t thank Him for your existence. So what a mistake they didn’t ask you to stay. Cause that’s all I’ve been doing the past years—asking you to stay.

I know that I’m not—nor will I ever be—qualified to say that I know you. Believe me, there are so much that I don’t know about you still. I know so little of you, and yet I think it’s safe to say that you’re one of those great souls who will always remain in people’s hearts. You are you, this amazing person I’ve come across in life that I’m forever grateful for, this lovely heart who keeps giving and giving to people wishing you’d get the least of love you think you deserve, this wonderful mind who always wonders for things and thrives for more to live.

Continue reading “An Open Letter: To Those Who Have Failed You.”

I’m In Love With Being Alive.

It’s been a while since those gloomy days. It’s been a while since the last time I wanted to be off of this world. It’s been a while I know baby, but I hope you don’t find yourself crying to sleep again years from now. When you’re exhausted from work, and your whole body aching, and the only thing greeting you is the dimmed light and a dull house you call home. I hope you don’t look for the answer of your worth anymore years from now. When a client just declines your presentation that day, and your boss demands some paperworks done by the afternoon, and your colleagues talk about how messy your work is. I hope you don’t.

I hope you don’t just drink your sadness away when things seem to go wrong cause I know exactly how it’ll turn out for you. You will call that boy from college by the fifth glass and tell him how fucked up you are, how messed up everything is without him around. Even years after your graduation. You will cry on the phone by the sixth glass and you will hear him soothes you down knowing that that’s the only thing you needed to hear after a long day. Validation. And maybe, after an hour or two, you will mistaken his kindness for something else.

But honey, don’t.

I hope you don’t mistaken his kindness for something else. I hope you don’t tell him things you’ll regret the morning after. I hope you don’t look at yourself disgusted for what you did. Cause honey, I think that’s a wonderful thing that you do each time. You wake up each morning, you spend your days trying to stay afloat, and you stay afloat. Right? You do everything everyday that you cry almost giving up each time, but you don’t. You never do. Don’t you find yourself so wonderful for not giving up? Cause I personally do.

I remember the other day I was with friends I haven’t seen for a while. We’ve had some good talks, with some good bottles along the way. I remember all was good. I remember the old days, when things weren’t as complicated as it is then. When the only thing making you anxious was the school national exam and nothing else. When friends were those you see five days a week, twelve hours a day. When all was good and all was fine. When all was good and nothing mattered while you still had them sticking with you through the day.

It was good. It really was until that point I questioned my own self one thing; where did it all go?

I think growing up is weird. One time you thought you had it all, like the world is only the matter of you turning the back of your hand. But then one other time, you missed one millisecond of it, right when you blink your eyes, and it’s all gone. Like, all those things that you thought matter the most to you, they’re gone. Friends leave. Achievements get forgotten. Long road ahead, no maps. And turns out, you never really knew where you stand since day one. Things leave and you’re left alone clueless with how you’re supposed to do after that happened.

Continue reading “I’m In Love With Being Alive.”